2 jam sebelum ujian akhir psikologi dimulai. Aku masih di sini, di depan laptop mengetik cerpen yang baru saja dimulai sambil mendengar John Denver dengan Leaving on a Jet Plane-nya, suatu kombinasi yang entah bagaimana aku harus menggambarkannya.
Kemampuan visualku sepenuhnya tertuang pada kata demi kata dalam cerpen dan kemampuan audioku fokus pada John Denver yang kini telah digantikan Breathe Easy-nya Blue, melted. Tapi konsentasiku benar-benar pecah! Antara kata-kata yang mengalir melalui sentuhan keyboard laptop, kata-kata yang terdengar dari iTunes, kata-kata yang tercetak rapi dalam diktat psikologi yang baru saja kuselesaikan dan tidak kubaca lagi, dan kata-kata yang seolah melayang membentuk suatu jejak asap dalam lobus-lobus otakku, Maryamah Karpov. Entah sejak kapan nama itu begitu saja terngiang dalam otakku, seperti suatu pesan rahasia dengan clue seseorang bernama Maryamah Karpov. Apa atau siapa sebenarnya Maryamah Karpov?
Dia adalah seorang tokoh ciptaan Andrea Hirata, salah satu penulis favoritku. Dan Maryamah Karpov adalah tetraloginya dari serangkaian buku best seller-nya. Judul pertama sampai ketiga telah selesai kubaca sejak zaman dahulu, yang tentu saja kupinjam dari seorang teman yang sangat berbaik hati meminjamkan koleksi buku bestseller-nya pada seorang maniak buku yang sama sekali tidak punya uang bahkan untuk membeli sebuah buku bestseller yang sedang diskon.
Tetralogi ini adalah buku terakhir yang memang agak jauh jarak penerbitannya dengan buku sebelumnya, jadi aku tidak bisa sekaligus meminjam pada temanku yang baik hati itu, karena tentu saja saat ini waiting list peminjaman bukunya sangat panjang, entah aku berada di anak tangga ke berapa dari bawah agar dapat mencapai puncak tangga tertinggi waiting list untuk mendapat grand prize kesempatan membaca Maryamah Karpov. Mungkin saat giliranku tiba, Andrea Hirata telah berubah pikiran, tidak jadi menamatkan tetralogi Laskar Pelangi pada Maryamah Karpov tetapi malah membuat buku kelimanya, apa itu namanya? Pancalogi? Hahaha. Menyedihkan? Lumayanlah. Tapi aku bukan satu-satunya maniak buku dengan modal pinjaman di dunia ini, jadi santai saja.
Dan yang menjadi masalah saat ini adalah buku yang sangat kuidam-idamkan dengan segenap jiwa raga tergeletak begitu saja di rak tv, disampul dan…tanpa nama.
Melihatnya saja membuatku ingin mengeluarkan air liur, dan melihatnya saja aku tahu bahwa dia milik teman satu kosku. Dapat kutebak kira-kira siapa yang memiliki selera sastra yang bagus atau malah kelatahan yang sangat dan yang pasti, memiliki cukup uang untuk membeli bestseller yang kuimpikan selama bertahun-tahun *lebaii…
Berkali-kali mondar-mandir lorong di depan tv, (karena memang kamarku tepat di ujung lorong tempat tv dan Maryamah Karpov bersampul dan tidak bernama itu tergeletak mati suri) berkali-kali mataku melihat erat-erat pada buku itu seolah ingin menghapalkan tiap detil desain sampul depannya yang cukup artisitik di mataku yang buta seni. Entah untuk keberapa kalinya aku membuka-buka halamannya, membaca potongan-potongan cerita yang mengalir deras dari ide kreatif Andrea, tapi tidak kuberanikan diri untuk membaca utuh satu paragrafpun, karena aku takut tidak dapat berhenti dan menganaktirikan diktat-diktat kuliah yang harus kulahap semua paling tidak selama dua minggu ini, itu juga kalau memang niat untuk lulus semua mata kuliah semester ini, agak sulit sepertinya.
Sudah beberapa kali kutanya pada beberapa teman kosku, adakah di antara mereka yang menjadi si empunya Maryamah Karpov yang menggiurkan itu, dan mereka semuapun menjawab tidak. Aku memang belum bertanya pada teman kosku yang menjadi tersangka utama pemilik sah Maryamah Karpov karena memang schedule-ku yang cukup padat tiap harinya untu bergumul dengan lembar demi lembar diktat yang harus kukalahkan, walaupun setiap pergumulan sengit itu selalu berakhir dengan aku yang tertidur tanpa dosa di tempat tidur, kalah telak.
Rabu, 21 April 2010
Langgan:
Poskan Komentar (Atom)





0 komentar:
Poskan Komentar