Senin, 18 Agustus 2008

Bujang





Siang-siang iseng ternyata menghasilkan satu foto yang ga terlalu bagus tapi ga jelek juga sih, hehehe *maksa*.

Muka cemberut di atas adalah salah satu kucing yang tinggal di rumah om gwe. Kucing cowok ini sama sekali ga jinak lho, ga gigit orang juga, yah jinak-jinak merpati gitu Sebenarnya ga cocok sih pake istilah jinak-jinak merpati, secara dia jelas-jelas kucing, tapi gwe ga nemu istilah lain buat ngejelasin gimana tingkahnya.

Well, mungkin gwe bisa mulai dari kenapa gwe bisa ngambil foto dya. Gwe lupa persisnya gimana, yang gwe ingat siang itu gwe ga ada kerjaan, seperti biasanya gwe duduk di tempat favorit gwe kalo lagi di rumah om gwe itu, tempat favorit gwe itu pintu samping. Hobi gwe duduk di pintu samping itu karena di situ banyak angin n bisa liat ke atas, ke arah jalanan yang kaya fly over (kayanya kan gwe bilang tadi?), sambil liatin awan yang berarak perlahan, secara sekarang musim kemarau di sini ga mungkin ada mendung, n ngerasain angin sepoi-sepoi membelai wajahku (puitis dikiiit). Gwe biasa ngapain aja di pintu itu, biasanya gw makan di situ, baca di situ, ngobrol di telepon di situ, yah aktivitas-aktivitas ringan yang memerlukan tempat yang nyaman, setidaknya nyaman buat gwe.

Karena biasanya gwe makan di situ, kucing-kucing yang jadi penghuni rumah itu, semuanya ada 3, pada ngikut nemenin gwe makan, nungguin jatah tulang yang bakal gwe lempar ke arah mereka. Menurut teori etologi (ilmu tentang perilaku binatang), hewan-hewan itu belajar, salah satunya dari habituasi atau kebiasaan. Karena gwe biasanya makan di situ, jadi di dalam otak mereka udah terbentuk mindset kalo kapanpun gwe ke pintu itu, itu artinya gwe lagi makan, ga peduli apapun yang gwe lakuin di pintu itu, mereka tetap nyangka gwe lagi makan (yah namanya juga hewan).

Sama seperti siang itu. Siang itu gwe cuma mau leha-leha sebentar di situ, di pintu itu., nothing to do. Tapi yah, namanya juga udah kebiasaan, sedang apapun mereka, pasti langsung lari begitu liat gwe ada di pintu samping dan langsung memasang pose dan mimik muka seperti terlihat di foto.

Kalo udah begitu, gwe cuma liatin dya (atau mereka kalo semuanya lagi kumpul) dan ga bilang apa-apa sampai dya (atau mereka kalo semuanya lagi kumpul) nyadar kalo gwe ga punya makanan pada saat itu. Dan harus gwe tekankan sekali lagi kalo makhluk yang gwe hadapi itu hewan berjenis kucing yang notabene telat mikir so pasti telat nyadar, entah apa kata kaum kucing kalo mereka bisa baca tulisan ini. Setelah beberapa waktu mereka akhirnya sadar akan keadaan itu (huah, actually I have a terrible headache now) dan mulai memasang mimik muka kecewa berat, dengan pandangan mata minta dikasihani sekaligus dengan gerakan bibir seolah lagi nyumpahin gwe (can you imagine that?).

Gwe yang pet lover ini mana tahan liat ekspresi muka mereka seperti itu, ga mau kalah saing gwe juga langsung pasang muka innocent lengkap dengan tatapan mata kaya anak anjing minta gendong (ayo cute-an siapa?), trus bilang gini, “duh, aku ga punya apa-apa untuk dimakan lowh, gimana dong?” *centil.com*.

Ga ding, ga gitu, gwe cuma ngeliatin mereka (ingat, dengan muka innocent n tatapan anak anjing minta gendong) dan ga bilang apa-apa. Kebetulan pada saat itu gwe lagi pegang hape, iseng punya iseng gwe foto aja tuh mereka, pada saat itu gwe udah pasrah dengan tampang sendiri yang ga kunjung membaik di kamera, walaupun dengan muka innocent dan tatapan anak anjing minta gendong, ternyata ga ngefek di kamera hape, alhasil innocent-nya hilang tinggal muka anjingnya aja, hahaha. Jadilah bukannya ngambil foto diri sendiri yang lagi bernarsis ria, gwe malah foto mereka dengan beberapa angle. Waktu itu ada kucing cowok yang ada di foto dengan emaknya. Well, gwe ga pernah megang mereka lebih dari 3 detik, jadi gwe agak malas ngasih mereka nama, dikasih nama juga ga ngaruh, jadi lebih baik kita sebut si kucing cowok itu “bujang” karena dya bujang emaknya *hahaha*, n emaknya kita panggil “emak”.

Nah si Bujang itu lucunya, walaupun udah bujang (secara dya bukan baby kucing lagi) masih aja ga bia lepas dari emaknya. Ke mana-mana pasti bareng emaknya. Ngapain aja pasti bareng emaknya. Biasanya anak kucing begitu telah beranjak besar mulai lepas dari emaknya, apalagi kucing cowok. Rupanya si Bujang adalah suatu pengecualian, umurnya mungkin udah 1 tahun lebih tapi masih aja nempel emaknya, gwe sering mikir jangan-jangan Bujang ngidap Mother Complex versi hewan. Saking melulu sama emaknya, Bujang ga punya pacar lho? Bujang ini manja banget sama emaknya, gwe sering ngeliat mereka lagi bobo di tumpukan setrikaan gwe atau di kursi meja makan sambil pelukan, hubungan ibu dan anak kucing yang aneh.

Ketergantungan Bujang pada emaknya mengingatkan gwe tentang begitu banyaknya manusia yang berketergantungan dengan sesuatu atau seseorang secara berlebihan. Manusia memang makhluk sosial, tidak mampu hidup sendiri. Tidak ada yang salah dengan ketergantungan, hanya saja apabila ketergantungan itu menjadi kronis hingga sulit disembuhkan maka ketergantungan itu berubah menjadi suatu kesalahan. Bujang juga mengingatkan gwe dengan salah satu tokoh dalam novel betseller Laskar Pelangi Andrea Hirata, Trapani. Trapani memiliki ketergantungan yang parah pada ibunya, hingga membuat sang ibu juga menderita gangguan kejiwaan yang serupa dengannya. Ibu Trapani tidak tega melihat anaknya yang begitu bergantung pada dirinya, pada keberadaannya hingga membuatnya terseret arus deras gangguan jiwa anaknya.

Wajar memang apabila seorang anak bergantung pada orang tuanya, selama masih dalam batasan yang wajar. Hanya saja apa batasan yang wajar itu? Masing-masing orang tua memiliki batasannya sendiri, masing-masing orang tua memiliki cara sendiri untuk memandirikan anak mereka, tapi semua orang tua sepakat bahwa suatu saat anak mereka harus mampu melalui hidupnya sendiri, berdiri di kaki sendiri.

Kembali pada cerita Bujang dan emaknya. Gwe masih penasaran apakah hewan khususnya kucing bisa mengalami gangguan jiwa, lebih lagi gangguan jiwa seperti yang dialami Trapani dan ibunya. Tapi berhubung seumur hidup gwe ga pernah dengar istilah kucing gila, maka untuk saat ini gwe putuskan kalo kucing tidak mengalami gangguan kejiwaan. Fenomena Bujang dan emaknya gwe anggap suatu bentuk keterbiasaan yang lain dari biasanya dalam kasus seekor kucing.

Sering gwe mikir kalo seharusnya ada penelitian lebih lanjut tentang hal ini. Para dokter hewan di dunia ini seharusnya melakukan suatu penelitian tentang kejiwaan hewan, terutama kucing. Kenapa harus kucing? Karena kucing adalah hewan yang memiliki interaksi yang cukup intens dengan manusia. Apakah kondisi kejiwaan manusia yang tinggal dengan seekor kucing atau berinteraksi dengannya mempengaruhi kondisi kejiwaan kucing itu juga? Itulah yang seharusnya kita cari tahu. Karena seperti kita tahu, manusia adalah makhluk dengan kondisi kejiwaan yang kompleks, bahkan kekuatan jiwanya mampu mengubah sesuat.

Dan karena saat ini hampir sebagian besar manusia memiliki kondisi kejiwaan yang tidak bisa dibilang baik walaupun hal ini sering tidak kasat mata dan memang tidak harus terlihat oleh mata telanjang, kita bisa meramalkan apa yang akan terjadi keeseokan harinya pada dunia dengan manusia penghuninya yang sakit jiwa. Karena itu gwe sarankan secepatnya dilakukan penelitian tentang kejiwaan seekor kucing dan kita akan menemukan beberapa fakta tentang manusia yang belum kita ketahui sebelumnya. Siapa mau mencoba?

3 komentar:

meong =3 mengatakan...

muahahahahahaha

tampang tuh kucing ga nahan XD XD XD XD XD

ga banget deh cer.

mo neliti kejiwaan kucing,, *rolling eyes*

gue rasa,sebelumnya lo harus neliti kejiwaan lo sendiri deh cer,, HAHAHAHA.

Ari mengatakan...

Hmm.. ini baru web log beneran, isinya curhat.. hehehe..

vie87 mengatakan...

Hmmmm,,,, Keren Banget,,,
Kucing itu adalah hewan yang paling lucu (walaupu ga semua orang sepakat dengan komentar qta ini,,, hehehe),,,
Memang tipe kucing itu beda2,,,
Kucing aq jantan juga gitu ,,, ga suka maen kemana2 n dirumah aja n ga bandel kayak kucing cowok pada umumnya,,,,